Bagi siswa kelas XII, ini bukan sekadar upacara bendera biasa. Ini adalah momen perpisahan dengan tiang bendera, barisan pagi, dan seragam kebesaran pelaksana upacara yang telah mereka jaga selama tiga tahun terakhir. Upacara ini menjadi simbol purna tugas sebelum mereka sepenuhnya berfokus pada gerbang perguruan tinggi.
Kelancaran acara yang berlangsung khidmat ini merupakan buah pemikiran dan kerja keras dari jajaran panitia inti. Nama-nama seperti A. Abdillah Batara, Agung Bhakti Jayadi, Muh. Abiyan Alandra, A. Syairah, Fitria Wihdania, dan Dwi Nurilmi menjadi sosok di balik layar yang memastikan setiap detail prosesi berjalan sempurna, mulai dari kesiapan petugas hingga tata urutan upacara yang menyentuh hati.
Di tengah rangkaian acara, UPT SMA Negeri 1 Bone juga memberikan panggung penghormatan bagi para pejuang akademik. Sekolah secara resmi mengumumkan dan memberikan sertifikat kepada Top 10 peraih nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) tertinggi. Prestasi ini menjadi bukti bahwa angkatan Ventharios tidak hanya unggul dalam organisasi, tetapi juga kompetitif di bidang akademik.
1. Isnan Ahmad Arrayan
2. Muh. Abiyan Alandra
3. Wilbert Melvin Kwandou
4. Muh. Irsyah Ramadhan
5. Fazli Nataprawira
6. Muhammad Fadel Januarto
7. Aulia Ramadhani Amin
8. A. Fathur Muhammad
9. Rizqy Noviandini
10. Firsyah Nur Awaliyah
Menambah kekhidmatan acara, sesi dilanjutkan dengan pemberian plakat kenang-kenangan dari angkatan Ventharios kepada pihak sekolah. Plakat ini bukan sekadar benda seremonial, melainkan simbol purna bakti dan tanda terima kasih yang mendalam atas bimbingan para guru selama ini. Penyerahan plakat ini menjadi penanda bahwa tugas formal Angkatan 70 sebagai pelaksana upacara telah usai dengan catatan yang membanggakan.
Puncak emosional yang menggetarkan hati seluruh peserta upacara adalah sesi pelepasan balon. Saat ratusan balon warna-warni dilepaskan secara serentak ke langit Bone, suasana seketika menjadi sunyi, diiringi pandangan mata yang menengadah ke atas.
Bagi Ventharios, pelepasan balon ini memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Balon-balon tersebut melambangkan harapan, doa, dan cita-cita yang kini mereka titipkan ke langit luas. Setiap balon yang terbang menjadi saksi lepasnya langkah mereka dari masa remaja menuju masa depan yang penuh tantangan baru. Melalui simbolisme ini, tersirat doa tulus agar setiap jalan yang mereka tempuh senantiasa diberkahi, dikuatkan, dan dituntun menuju keberhasilan.
Sebagai penutup yang menyentuh sanubari, upacara diakhiri dengan sesi bersalam-salaman (mushafahah) antara seluruh siswa kelas XII dengan para guru. Barisan panjang siswa mengular, satu per satu mencium tangan bapak dan ibu guru sebagai bentuk penghormatan terakhir dalam kapasitas mereka sebagai pelaksana upacara.
Isak tangis haru tak terbendung dalam sesi ini. Guru-guru memberikan pelukan hangat dan bisikan doa restu, sementara para siswa menyampaikan permohonan maaf atas segala khilaf selama kurang lebih tiga tahun menimba ilmu. Momen ini menjadi jembatan batin yang menguatkan hubungan antara pendidik dan murid sebelum mereka benar-benar melangkah keluar dari gerbang sekolah.
Seiring dengan berakhirnya upacara, ada sebuah harapan besar yang tersemat di hati setiap siswa kelas XII. Mereka berharap momen "The Last Flag Ceremony" ini akan menjadi salah satu memori paling berharga yang akan selalu dikenang. Mereka menyadari bahwa setelah kelulusan nanti, rutinitas berdiri di lapangan upacara setiap hari Senin, yang mungkin dulu terasa melelahkan, akan menjadi hal yang paling mereka rindukan.
"The Last Flag Ceremony" bukan sekadar akhir dari sebuah tugas, melainkan awal dari perjalanan panjang angkatan Ventharios untuk membuktikan jati diri mereka di dunia luar. Selamat berjuang, Angkatan 70!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar